Pyrophyllite

Aluminum Silicate Hydroxide
AlSi2O5OH
Pyrophyllite  digunakan sama seperti bedak ( Talc ), itulah sebabnya sebagian besar negara-negara mecampurkannya dengan Talc, steatite, dll
Sejarahnya,
Pyrophyllite berasal dari kata  Yunani untuk api dan daun seperti dalam " fire-leaf ". Phyllite  kata Yunani berarti daun , mungkin karena setelah dibakar akan menghasilkan seperti lembaran keripik, yang sebenarnya adalah Silika. Karena Pyrophylite mengandung Silika.
PYROPHYLLITE adalah komposisi mineral sekunder Al2O3.4SiO2.H2O, mengandung 28,3% Al2O3, 66,7% SiO2 dan 5% H2O. Penampilan terlihat seperti Talc dan juga sifat fisik itu identik dengan Talc. Namun, berbeda dalam komposisi kimia, seperti Talc  adalah magnesium silikat hydrous sedangkan pyrophyllite adalah hydrous aluminium silikat.
Komposisi mineral Talc:  35,06% Silika, 30,13% MgO
Silika atau Kwarsa bisa digantikan dengan pyrophyllite pada campuran Porcelain dengan komposisi Tanah Liat 50%, Silika 25%, Feldspar 25%. Dengan penambahan 15% pyrophylite akan mengurangi penyusutan sebesar 6% . menambah firing strength atau kekuatan barang setelah dibakar sekitar 25% nya dibanding sebelum ditambah, menambah firing range artinya tahan terhadap naik turunnya temperature. Tetapi perlu diingat bahwa penambahan pyrophylite atau penambahan bahan apapun harus disesuaikan dengan  temperatur kiln.
Pyrophyllite mineral yang bisa didapatkan  di Pacitan Jawa Timur.
Tips menerapkan Glasir.
Untuk menjaga keamanan dan kenyamanan , selalu bersihkan peralatan yang dipakai setelah bekerja. Terutama bila sering berganti glasir atau memakai beberapa jenis Glasir pada tempat yang sama. Bersihkan  peralatan sebelum Glasirnya kering.
  1. Simpan Glasir pada tempat yang sejuk, jangan meletakkan stok Glasir pada tempat yang panas, misalnya diletakkan didekat Oven atau Kiln. Akan menyebabkan Air di Glasir mudah menguap, dan Glasir akan menjadi tebal karena lebih kental.
  2. Selalu menutup rapat tempat stok Glasir untuk menghindari debu dan penguapan.
  3. Selalu dilakukan pengetesan bila akan digunakan dengan mengukur BD dan kekentalan. Caranya bisa anda pelajari disini.
  4. Gunakan mixer yang memakai motor untuk megaduk Glasir, jangan hanya menggunakan tangan atau pengaduk kayu. Akan membuat glasir tidak rata.
  5. Pastikan bahwa biscuit atau green ware anda bersih, bebas dari debu, minyak yang berasal dari tangan berminyak, tangan bekas makanan berminyak, debu yang melengket di biscuit karena sebelum di bakar biscuit kurang bersih. Akan mengakibatkan keluar gelembung pada Glasir, bintik-bintik putih tanpa glasir setelah pembakaran. Bersihkan biscuit dengan memakai spon basah sebelum dicelup glasir.
  6. Pastikan bahwa glasir sebelum digunakan sudah bebas dari Ferro atau bubuk besi. Dengan menggunakan Ferro Filter atau selalu meletakkan sebuah magnit didalam tempat glasir, dan selalu dibersihkan setiap waktu.
Kesalahan dan cara mengatasinya.
  1. Terjadi gelembung udara kecil didalam glasir, terutama pada tempat dimana Glasir meleleh lebih tebal. Terjadi karena Glasir kekentalan atau waktu mencelup kelamaan. Kurangi dengan menambahkan air. Dan ukur BD nya, waktu celup lebih cepat.
  2. Permukaan Glasir terlihat kasar, disebabkan karena Glasir terlalu encer atau tipis. Kurangi air dengan membiarkan beberapa jam agar air berada diatas, ambil dengan spon kering demi sedikit sampai pada BD yang diperlukan.
Untuk membuat cetakan keramik, disini saya menjelaskan bagaimana cara membuat cetakan keramik untuk casting atau system tuang. Pada prinsipnya semua cetakan yang terbuat dari bahan keras pasti mengikuti prinsip ini. Kecuali bila bahan cetakannya terbuat dari bahan yang lentur seperti Silicon Rubber. Ada juga yang tidak mengikuti prinsip ini yaitu membuat patung dari perunggu, kuningan seperti pada pembuatan patung yang ada di Trowulan, Malang ( Jawa Timur ). Sedikit saya ceritakan mungkin berguna bagi anda. Untuk membuat patung di Trowulan,
pertama patung2 itu dibuat dari lilin yang sudah dicetak dahulu. Setelah itu hasil cetakan berupa lilin itu dibungkus dengan tanah liat yang dicampur pasir agar tidak mudah retak. Kemudian cetakan tanah liat yang didalamnya sudah ada patung lilin dikeringkan dengan sendirinya tanpa di jemur di matahari ( bisa leleh ). Setelah kering, lilin dikeluarkan dengan cara dipanasi dengan api kayu dll. Setelah lilinya tertuang semua, baru cetakan tersebut dituang dengan cairan perunggu atau tembaga. Itulah sekilas mengenai cetakan perunggu.
Kalau cetakan casting atau system tuang, anda bisa lihat kedua gambar dibawah. Warna coklat ditengah adalah model yang akan dibuat cetakan. sedangkan diluarnya adalah cetakan gypsum. Agar modelnya bisa diambil lagi setelah cetakan jadi, dan hasil tuang bisa dikeluarkan, cetakan harus dibagi menjadi dua bagian. Gambar 1 adalah membagi cetakan yang benar. Yaitu bagian atas dan bawah bila dibuka tidak ada yang tersangkut dengan model.
Gambar 2. membagi cetakan yang salah.Bagian A tidak tersangkut, sedang Bagian B tersangkut oleh model atau tidak bisa dibuka.
Gambar 1
Gambar 2









Cara membuat cetakan gypsum selengkapnya lihat disini
Kesalahan Casting
Beberapa jenis kesalahan atau masalah yang dihadapi ketika menuang cairan bahan keramik. memang kalau belum tahu teknik cara mengatasinya, akan mengalamai kerugian yang tidak sedikit. Cara yang saya kemukakan disini adalah cara yang biasa saya gunakan untuk mengatasinya. Dan jarang yang mau mengemukakan hal tersebut, apalagi membagikan kepada orang lain,
meskipun setelah anda pelajari, hanya begitu doang. Tetapi perlu diingat bahwa hal sekecil apapun, kalau belum tahu mengakibatkan kerugian yang tidak sedikit kalau sudah menyangkut perusahan keramik yang lebih besar. Baiklah pelajari lebih lanjut.

poor filling> Waktunya lama untuk mengisi cetakan> Terlalu kental.> Tambahkan air atau tambahkan Water Glass

flabby casts> Hasil Casting Lunak, susah diangkat> Thixotropy terlalu tinggi> Tambahkan deflocculant ( Water Glass)

Brittle casts> Susah untuk di patahkan, susah untuk finishing> Thixotropy terlalu rendah> kurangi Deflocculant.

Poor draining> Tidak bisa mengalir melalui pipa/ slang> Terlalu kental, Thixotropy terlalu tinggi> Tambahkan air atau tambahkan deflocculant.

Wreathing> keluar tonjolan sedikit melingkar pada sisi dalam>Thixotropy terlalu rendah ( encer )> Kurangi defloculant atau kurangi air.

Pinholes> lubang jarum pada sisi luar > Kekentalan> Tambahkan air atau tambahkan Defloculant.

Cracking> retak kecil pada pegangan Cangkir, pegangan Teko> Thixoropy terlalu rendah> Kurangi air atau kurangi Defloculant.

Ditulis oleh : F Lenny K.
Di tangan Rosita, pecahan keramik yang biasanya dibuang,  bisa menjadi barang bernilai seni tinggi.  Ikuti perjalanan kreatif Rosita Agustini ini.
Keramik biasanya dipakai untuk menghias dinding atau lantai rumah. Itupun harus dipilih yang masih mulus dan tidak cacat.  Kalau ada yang patah atau terpotong sebagian, pasti tidak akan dipakai.
Tapi kalau Anda lihat workshop Kreamoz Art di Pancoran Mas Depok, justru kebalikan. Puing pecahan keramik dengan bentuk yang tidak beraturan, dibuat menjadi  mozaik bernilai tinggi. Pot, lukisan, atau dinding rumah menjadi lebih indah dan artistik.
Diakui Rosita, memang sejak kecil dia sudah senang dengan kerajinan apa saja. Setiap mengerjakan tugas keterampilan di sekolah, ia selalu mendapat nilai bagus. "Mungkin bakat seni mengalir dari orang tua yang pekerjaannya menjahit," jelas Rosita.
Sebelum terjun ke mozaik, ia dan suami, Soediyantono, membuka restoran di daerah Cawang. Tapi karena terkena pelebaran jalan, ia akhirnya pindah rumah di daerah Depok. Karena pada dasarnya tidak bisa diam, ia sempat ikut beberapa kursus untuk mencari peluang usaha. Kursus yang ia ikuti antara lain:  menjahit,  salon , dan kursus memasak. Dari kursus-kursus itu, ia merasa belum ada yang cocok di hati untuk dijalani.
 Ia tertarik pada mozaik setelah sering melihat puing keramik berserakan. Sisa keramik yang beraneka warna itu membuat dirinya terinspirasi untuk memanfaatkannya.  Maka mulailah ia mengumpulkan puing keramik untuk dibuat eksperimen. Butuh sekitar 2 tahun  untuk eksperimen mulai dari cara memecah keramik, membentuk dan menempel keramik pada media.
Pertama kali mozaik yang dibuat adalah pot, dengan motif batik. Setelah jadi ada tetangga yang tertarik dan membelinya dengan harga Ro 20 ribu."Walaupun murah, tapi saya cukup puas karena ternyata mozaik dihargai orang," jelas ibu 2 anak ini. Waktu itu tahun 2003.
Tidak puas dengan pot, ia juga membuat kreasi mozaik untuk lukisan, dinging kamar mandi, teras dan masih banyak lagi. Dengan terus belajar dan belajar, karya mozaiknya mulai dikenal orang. Untuk pot, ia menjual mulai dari harga Rp 17,500 sampai Rp 500 ribu.  Sedangkan lukisa mozaiknya dibandrol dari Rp 1 juta - Rp 5 juta.
Jalan hidupnya mulai mendapat energi baru ketika ia masuk IWAPI (Ikatan Wanita Pengusaha) Cabang Depok. Selain mendapat informasi dan masukan seputar bisnis, ia juga mulai ikut pameran. Dari pameran ke pameran itu, ia banyak sekali mendapat pembeli dan pelanggan baru.
Moment yang tidak terlupakan adalah tahun 2006, ketika ia mendapat kepercayaan artis Meriem Bellna untuk mempercantik rumahnya dengan mozaik. Hampir semua sudut rumah Meriem mendapat sentuhan mozaik. Mulai dari teras, dinding, kamar mandi, sampai tempat sampah. "Selama 2 bulan saya dibantu 6 karyawan mengerjakan rumahnya," jelas Rosita bangga. Ia juga pernah mendapat pesanan  mozaik pot sebanyak 100 bh untuk hotel, dan harus selesai dalam waktu 1 minggu. Karena waktunya sedikit, ia mengajak 100 remaja tetangganya untuk membantu mengerjakan pesanan itu.
Karena banyak teman dan tetangga yang ingin belajar, ia juga membuka kursus membuat mozaik di workshopnya. "Saya justru senang kalau banyak yang bisa membuat mozaik ini, supaya rumah dan taman mereka menjadi indah semua," jelas Rosita yang sedang mempersiapkan penerbitan buku tentang mozaik ini.
Disalin dari:
http://klubnova.tabloidnova.com/index.php?option=com_content&task=view&id=176&Itemid=68

Kamis, 8 Januari 2009 | 15:25 WIB
Empat bocah asal Jepang tampak antusias menyimak kata-kata seniman keramik, Jenny Lee, yang juga guru seni keramik Sekolah Jepang Surabaya. Bocah siswa kelas tiga dan empat SD terlihat tekun mengikuti kegiatan bertajuk "Surabaya Time" yang memperkenalkan kebudayaan Indonesia kepada anak-anak Negeri Sakura itu, khususnya seni keramik, tari, dan batik.
"Program Surabaya Time itu merupakan kegiatan memperkenalkan kebudayaan Indonesia kepada anak-anak Jepang yang belajar di Sekolah Jepang Surabaya sesuai dengan ketertarikan dan minat mereka kepada kebudayaan Indonesia," kata guru kelas tiga Sekolah Jepang Surabaya, Kanazawa Shinya, didampingi Eko Karyano, Manajer Bisnis Sekolah Jepang Surabaya, Rabu (7/1) di Studio Keramik Jenny Lee, Jalan Mastrip Bogangin 21, Surabaya.
Jenny Lee yang sejak dua bulan lalu menjadi pengajar seni keramik di Sekolah Jepang Surabaya dengan sabar membimbing keempat bocah tersebut mengenal lebih jauh tentang proses pembakaran keramik dalam tungku hingga proses glasir atau pewarnaan pada keramik.
"Jangan terlampau tebal karena keramik yang sudah diproses setengah matang itu mudah menyerap bahan pewarna. Jadi, tipis-tipis saja saat mengglasir keramik itu biar saat proses pembakaran tidak gampang pecah," kata perupa Agus "Koecink" Soekamto kepada bocah Jepang yang sedang mengglasir keramik.
Bocah-bocah asal Jepang itu tak saja mendapat pengetahuan singkat tentang cara menata keramik di dalam tungku pembakaran, tetapi juga bagaimana membuat muk, mangkuk, atau daun dari bahan stoneware, earthernware, dan porselen hingga mewarnai keramik dengan citra-citra gambar atau lukisan yang indah.
"Sebelum diglasir, keramik itu terlebih dahulu harus dibersihkan, jangan sampai ada debu yang menempel. Setelah diglasir dan digambar, baru diproses pembakaran dalam tungku dengan suhu 1.200 derajat Celsius," ucap Jenny Lee, alumnus ISI Yogyakarta.
Keempat bocah Jepang itu sesekali mengusap tangannya yang belepotan bahan pewarna atau glasir. Sesekali pula mereka mengelap keramik yang belepotan menggunakan spon basah. Sebab, keramik yang belepotan itu amat mengganggu tatkala hendak digambar dengan ornamen-ornamen. "Setelah bersih dan tidak belepotan, baru kita gambar atau lukis," kata Jenny Lee.
Nito Kimihiko, salah seorang siswa kelas IV, yang tertarik belajar membuat keramik mengatakan, Indonesia memiliki peralatan makan yang bermacam-macam, baik model maupun bentuknya, seperti piring, mangkuk, dan muk. "Saya ingin tahu bagaimana cara membuatnya karena itu saya tertarik untuk belajar seni keramik dan senang bisa belajar langsung di studionya Bu Jenny," tuturnya.
Sumber asli :
http://koran.kompas.com/read/xml/2009/01/08/1525374/.bocah.jepang.belajar.seni.keramik

Kurniawaty Gautama
KEINDAHAN alam bawah laut mengundang decak kagum seorang gadis bernama Kurniawaty Gautama (30). Keindahan itulah yang ia tuangkan setiap kali membuat keramik, hobi yang telah lima tahun belakangan ini ia tekuni. Pasti ada saja penghuni alam laut yang menjadi pokok perhatiannya, seperti; bintang laut, terumbu karang, ubur-ubur dan pastinya ikan-ikan aneka bentuk dan warna.
Seperti keramik yang ia pajang pada meja tamunya, pemandangan laut ukuran 10x10 yang ia buat dengan teknik slab (teknik membuat keramik dengan memotong menjadi beberapa bagian yang sama besar kemudian dihiasi dengan gambar) seakan menunjukkan ketekunannya menggambar di atas keramik.
Menggambar lebih dulu ia kuasai sehingga ketika ia harus menggambar di atas keramik bukan sesuatu yang susah. Dan ikan adalah mahluk yang paling sering muncul sebagai cerminan ekspresinya dalam seni mengolah tanah liat ini. Ikan dalam keramiknya kebanyakan dibuat dengan teknik pinch (membentuk dengan menekan tanah liat) dan slab. Selain mahluk alam laut, ia kerap memunculkan gambar legenda putri duyung sebagai pelengkap.
Tak heran jika pada satu rangkaian keramik slab yang dibuatnya hampir terdiri dari tiga unsur alam laut seperti ikan, tumbuhan dasar laut dan putri duyung. Selain warna tanah yang ia munculkan, ada beberapa warna yang hasil eksperimennya sendiri. Selain membuat keramik dengan gambar penuh pada keramik dengan teknik slab ia juga membuat kepingan kecil secara utuh penghuni alam laut seperti bintang laut, kerang, bulu babi dan sebagainya.
Mahluk alam laut yang dibuatnya dengan ukuran kecil inilah katanya lumayan mempunyai nilai jual. Namun begitu, tambahnya, dalam berkarya komersil bukanlah tujuan utamanya.“Uang dari penjualan hasil keramik bukan sesuatu yang penting buat saya, tetapi proses dari pembuatan keramiknya itu sendiri,” tutur penikmat Khalil Gibran ini. Ia menjelaskan bahwa dengan mengenal keramik sebenarnya ia menjadi lebih tahu jati diri dan menggali potensi alam.
“Dengan belajar keramik berarti saya jadi tahu jenis tanah dan sebagainya”.
Itu sebabnya semakin mendalami keramik ia semakin jatuh hati. Selain terus mengasah kemampuannya berkeramik, Kurniwaty juga memamerkan produknya di berbagai acara. Kini masyarakat bisa mengapreasiasikan keramiknya dengan nominal. Tetapi ia sendiri, katanya, tidak mau terlalu jauh memproduksi barang keramik yang komersial. “Nanti saya kehilangan waktu untuk berkreasi sesuai keinginan sendiri,” begitu alasannya.
Mungkin karena hobi, maka dara mungil ini mengerjakan segala sesuatunya dengan enjoy. Namun bukan berarti dia tak pernah mengalami peristiwa menyebalkan. Yang paling membuatnya jengkel bila hasil pembakaran keramiknya ternyata tidak seperti yang diharapkan.
“Saya paling sebel kalau hasil bakar keramiknya jelek,” cetusnya. Ia juga bisa senewen kalau apa yang sudah dikerjakannya gagal total. “Saya pernah bikin sudah jadi dan besar tetapi rubuh karena tertiup angin. Sampai sekarang saya nggak pernah buat yang seperti itu lagi,” ceritanya geram.
Belum lagi soal pewarnaan yang kadang membuatnya jenuh. “Hasil warna yang jelek juga kadang bikin saya kesal. Habis tidak seperti yang harapkan,” keluhnya. Tapi Itu hanya ‘kerikil kecil’ dalam menekuni hobinya. Tidak ada artinya dibanding kenikmatan yang dia dapat dari hobinya itu. Tak heran jika Nia mengaku keramik kerap menjadi sarana untuk menumpahkan perasaannya, saat ia senang maupun gundah terhadap ketidakadilan hidup. Sama seperti kesukaannya memandang isi laut yang sering menjadi model keramiknya.
Koleksi Tanah dan Pasir
Dari tidak tahu, menjadi suka bahkan cinta mati. Itulah gambaran kecintaan Nia terhadap keramik. Selain senang main-main dengan tanah liat, setelah mempelajari keramik pengetahuannya bertambah. Puas karena kreasinya, bangga karena wawasannya bertambah, begitulah Nia memandang keramik saat ini. Bayangkan jika sebelumnya ia tak peduli dengan tanah, kini kemanapun ia pergi yang diperhatikannya adalah tanah. Jadi wajar, kalau semenjak mengenal keramik Nia juga mengoleksi beberapa pasir dan tanah.
“Waktu saya ke Singapura, saya ambil tanahnya. Ketika teman ke Amerika, padanya saya titip dibawakan pasir,” ujar Nia yang punya tanah dari Malaka. Sementara pasir ia koleksi berasal dari Ujung Kulon, Pulau Sepa Kep.Seribu, Bali, Lombok, Santa Monica Amerika, Santa Barbara Amerika.
Tidak hanya pasir dan tanah yang dijadikan eksperimen pembuatan keramiknya. Nia juga punya abu rokok, abu obat nyamuk, daun-daun kering, kulit jeruk, mawar, kunyit yang dipakai untuk proses pewarnaan. Semua itu ia temukan seiring ia mempelajari keramik. “Saya jadi tambah pengetahuan sejak belajar keramik. Karena itu saya jadi sangat tertarik untuk terus mendalami keramik,” ujarnya. Keramik sangat multi disiplin ilmu, begitulah yang dirasakan Nia. Karena itu pula ia berencana belajar pewarnaan keramik di Singapura untuk melengkapi pengetahuan keramiknya. ***korantokoh
Awalnya tak Tertarik
PERTAMAKALI melihat keramik, Kurniawaty Gautama tak punya kesan mendalam. Baginya keramik tak lebih dari barang mati yang sering dilihatnya sebagai pajangan. Meski demikian ada rasa penasaran di hatinya, ingin tahu bagaimana caranya membuat keramik. Dari situlah Nia memulai perjalanan panjangnya mengenal keramik. Hingga pada tahun 1998 ia terdampar pada sebuah kursus keramik dan berguru pada keramikus handal yang kesohor Keng Sien.
Dari Keng Sien lah, Nia mengenal A sampai Z-nya keramik. Jika saja ia tidak mengenal keramik barangkali karirnya di bidang periklanan masih dilakoninya. Tetapi ia tetap memilih menekuni seni mengolah tanah ini meski disadarinya banyak kesulitan yang harus dihadapinya. Bagi pehobi traveling ini, tidak mudah untuk memutuskan perhatian hidupnya pada keramik. Ia harus bergulat pada pertimbangan apakah ia berkeramik hanya sekadarnya saja dan melanjutkan kerja atau total berkarya keramik dengan segala risikonya. Pilihan yang dilematis tentunya.
Masukan tidak hanya datang dari pihak keluarga, sahabat-sahabatnya juga mengingatkan bahwa hidup berkesenian harus siap menjadi gembel. Ia juga mempelajari kehidupan para seniman dunia seperti Van Goh Akhirnya Nia memilih keramik sebagai jalan hidupnya. Artinya ia harus siap menjalani semua risiko pilihannya itu.
Saat-saat pertama menggeluti keramik sempat juga terpikir, bagaimana kalau sampai kehabisan uang, baik untuk hidupnya maupun untuk melanjutkan seni keramiknya. Tapi cepat-cepat ia tepis pikiran semacam itu. Tekadnya sudah bulat akan mencurahkan seluruh waktunya untuk berkreasi di bidang pembuatan keramik. “Apapun risikonya saya ambil,” tegasnya.
Beruntung Nia, karena masih tinggal bersama orangtua sehingga beban sedikit berkurang. Apalagi akhirnya dorongan dari ketiga adiknya sudah didapatkannya, serta teman-teman dekatnya sudah mulai memahami pilihan hidupnya. Maka yang ada sekarang adalah bagaimana mewujudkan idealismenya. Selain itu ia juga menyiasati godaan hidup dengan mengalihkan perhatian pada hal-hal imateril seperti kepuasan batin. “Kalau yang kita pikirkan materi melulu bisa stress. Tetapi kalau bisa berkarya dan memuaskan batin, rasanya itu jadi tidak sepadan lagi,” paparnya.
Nyatanya hidup Nia terus mengalir. Upaya memamerkan hasil karyanya di tiga galeri di Jakarta juga sedikitnya bisa membantu Nia meraih apa yang diinginkannya. Sebulan sekali ia mengecek barang-barangnya. Kalau ada yang terjual ia segera mengganti dengan yang baru.
Sementara itu ia masih terus berlatih ketrampilannya mengolah tanah liat. Ia berharap suatu saat bisa menghasilkan karya agung. Di antaranya adalah membuat keramik dalam ukuran besar.“Punya studio sendiri dan buat lukisan keramik yang monumental di satu gedung adalah keinginan saya dalam beberapa waktu ke depan ini,” jelasnya. Nia kini sangat menikmati pilihan hidupnya: keramik. ***korantokoh
Disalin dari :
http://www.matabumi.com/bisnis/tinggalkan-kerja-kantoran-terjun-ke-bisnis-pembuatan-keramik
Glasir untuk temperatur rendah Keramik

Karena banyak yang menanyakan soal glasir temperatur rendah ini, hari ini saya bahas disini
Untuk bahan keramik pada temperatur rendah, senbenarnya lebih sulit dibanding dengan temperatur yang lebih tinggi. Karena lebih mudah retak seribu. Kalau pernah mengamati glasir genteng berwarna, banyak yang retak seribu.
Untuk mengurangi hal tersebut, maka dianjurkan memakai bahan glasir yang susutnya lebih sedikit. Sedang bahan baku yang susutnya sedikit tetapi bisa leleh atau melt pada temperatur sekitar 900, sulit.
Maka dibuat menjadi Frit dulu. Artinya bahan glasir yang bisa leleh pada temperatur rendah yang dicalcine ( dibakar dulu ).
Campuran Dasar Glasir rendah ( 1005 C )
45 Frit 3124
40 Frit 3134
15 Kaolin Bubuk
Frit 3134 lebih rendah temperaturnya daripada Frit 3124.
Campuran ini tidak selalu bias ditrapkan, karena harus disesuaikan dengan temperature, bahan keramik yang dipakai.
Prinsipnya, kalau terlalu meleleh, tambahkan kaolin. Kalau kurang leleh atau kurang mengkilap kurangi kaolin. Kalau Crazing atau retak seribu tambahkan silica sampai 5% atau merubah komposisi, dengan menambah Frit 3124  dan mengurangi Frit  3134.
Kalau membuat glasir warna, tinggal menambahkan 5-10% warna untuk keramik.
Kalau membuat Glasir untuk Genteng kebanyakan memakai PB atau Timbal. ( 900C )
100 PB ( Timbal )
80 Air
0,4 Soda Ash
Kalau membuat warna sama dengan diatas.
Glasir 900C-1005C
40 Sodium Feldspar
38 Silika
12 Ball Clay
Glasir 950C-1005C
37 Sodium Feldspar
33 Silika
12 Kaolin Bubuk
12 Sodium Bicarbonat
Glasir 950C
30 Nepheline Syenite
25 Ball Clay
15 Frit 3134
25 Silika
3  Borax  yang sudah di calcine
4  Soda ash
Kiln Keramik gas adalah jenis kiln/ oven yang paling praktis dan bersih. Tetapi cara pemakaian yang salah akan berakibat fatal. Mungkin Kiln akan hancur berantakan karena meledak. Bagaimana ini bisa terjadi?
Pada prinsipnya, gas yang tersimpan diruangan tertutup akan terbakar dengan cepat atau meledak bila ada api. Seperti yang banyak terjadi pada rumah tangga yang memakai gas LPG. Kalau tabung LPG berada diruangan tertutup rapat lebih berbahaya dari pada ruangan yang terbuka kalau tabungnya bocor. Gas LPG lebih berat daripada udara, sehingga gas yang bocor selalu berada di bawah. Jadi misalnya ada gas bocor diruangan tertutup, pada pagi harinya ada yang menyulut api entah kompor atau korek, pasti orang didalam ruangan akan terbakar karena api berasal dari bawah. Ini sedikit gambaran  tentang gas.
Bagaimana dengan Kiln/ Oven Keramik yang memakai gas? mengapa bisa meledak? Ini benar-benar bisa terjadi dan saya serta  teman pernah mengalaminya.
Yang perlu diperhatikan adalah pada temperatur yang masih rendah dimana ruangan kiln belum cukup untuk membakar gas itu. Jadi sangat penting bahwa pada temperatur rendah  api di burner tidak boleh mati. Usahakan untuk menjaga jangan sampai api di burner mati. sampai paling sedikit mencapai temperatur 900C.
Kalau sampai terjadi api di burner mati. Jangan langsung disulut  api. Apalagi kalau tidak tahu kapan matinya. Karena sementara apinya mati, gas jalan terus sehingga memenuhi ruangan kiln/ oven keramik, dan tidak bisa keluar. kalau sampai disulut api, maka langsung BANG!!! meledak.
Cara mengatasinya :
1. Biarkan dulu beberapa saat, sambil pintu kiln/ oven dibuka sedikit supaya lebih mudah keluar.
2. Salurkan angin memakai kompressor secara perlahan, karena kalau terlalu keras akan merusakkan barang didalam, kemungkinan bisa retak.
3. Ini yang paling penting!! jaga jangan sampai api mati. Jadi waktu pembakaran pertama atau temnperatur rendah jangan kerja yang lain, harus konsentrasi .
Semoga bermanfaat,
Menerapkan Glasir ( Applying glaze )
Cara menerapkan Glasir bisa dengan cara :
1.    Mencelup
2.    Spray
3.    Menuang
4.    Memakai kuas
1.    Mencelup : menyiapkan glasir dalam suatu wadah diperkirakan bahwa banyaknya cairan glasir cukup untuk mencelup keseluruhan permukaan barang keramik. Setelah cukup, baru barang keramik dipegang dan celupkan kedalam cairan sampai rata. Langsung diangkat sambil menghabiskan sisa cairan glasir yang masih ada. Cara memegang barang bisa juga menggunakan penjepit. Lamanya waktu mencelup mempengaruhi ketebalan glasir.
2.    Spray ; Barang yang akan di spray diletakkan diatas tataan putar, agar mudah meratakan permukaan barang. Cara spray sama dengan kalau spray cat kayu atau cat mobil. Cuman bedanya  kalau spay keramik lebih susah karena kerataannya hampir tidak terlihat. Jadi perlu latihan.
3.    Menuang : Caranya barang yang dituang glasir, diletakkan pada tataan yang terdiri dari kawat stainless yang bersaling silang/ kisi-kisi, agar glasir yang dituang sisanya kembali bisa dipakai. Setelah barang diletakkan pada tataan tersebut, glasir dituang dari atas. Ada juga alat tuang yang bisa dari bawah juga bisa dari atas.
4.    Memakai Kuas: Caranya sama kalau men cat kayu atau plat besi. Tetapi dalam keramik perlu penanganan yang agak berbeda. Kalau cat biasa, lebih lama kering dan mudah untuk diratakan. Kalau di glasir keramik cepat kering. Jadi tidak mudah rata. Untuk lebih memudahkan pengerjaannya, pada glasir ditambahkan madu, sirup atau gliserin
Kadang cara penerapannya bisa dicampur.
Misalnya untuk mengglasir vas bunga, yang dalam dengan cara Menuang. Sedang yang diluar dengan cara Spray.